Dulunya saya tidak tahu apa itu STIKOM. Saya pikir itu sekolah untuk orang-orang yang terpinggirkan. Yang tidak diterima dan asal masuk saja. Bagi saya, sekolah tinggi swasta kalah prestige dengan universitas negeri. Dilihat dari segi manapun, pada akhirnya almamater akan sangat menentukan kesempatan kerja yang mungkin datang bagi para akademisi nantinya.
Tentu saja saya bicara bukan tanpa bukti. Banyak sekali kesempatan yang direbut oleh para lulusan universitas negeri dan tidak menyisakan apapun untuk para lulusan sekolah tinggi swasta. Masyarakat masih terdoktrin bahwa universitas negeri akan mencetak manusia yang lebih berkualitas dan berintegritas.
Tetapi realitanya tidak semua lulusan dari universitas negeri juga dapat diandalkan untuk terjun ke masyarakat. Saya mempelajari suatu hal selama saya kuliah di universitas negeri, yaitu kualitas seseorang bukan dinilai dari dimana dia belajar, tapi apa yang dia pelajari dimanapun dia belajar. Bahkan seseorang yang tidak menempuh pendidikan formal bisa menjadi seorang milyuner dan pengusaha sukses. Seseorang yang berkuliah di universitas bergengsi bisa saja hanya menjadi supir dari pengusaha yang tidak memiliki gelar tersebut. Itu semua terjadi dan bukan hanya sekali.
Jalan hidup seseorang tidak bisa ditentukan dari hal sekecil seperti seseorang memilih untuk bersekolah dimana, jalan hidup seseorang bisa berubah sewaktu-waktu dalam sekejap. Kalau tanpa embel-embel nama universitas negeri di ijazah saya nanti, Apakah saya tetap bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar nantinya? Atau bahkan mampukah saya membangun perusahaan saya sendiri?
Jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan sendiri itu adalah “Why not?” Mengapa tidak? Saya terpikirkan akan ide ini dan membuat saya akhirnya memutuskan untuk mencari sekolah tinggi swasta yang cocok dengan saya.
Pilihan saya akhirnya jatuh ke sekolah tinggi swasta ini, STIKOM Surabaya. Saya tidak punya alasan yang terlalu hebat masuk ke sekolah tinggi swasta ini. Alasan saya sederhana saja, karena STIKOM Surabaya memiliki lingkungan pergaulan yang nyaman dan fasilitas yang lumayan bagus. Selain itu, saya merasakan suatu atmosfir yang menyenangkan. Saya merasa sesuatu yang menarik mungkin saja terjadi di sini, pada diri saya. Hal seperti itu tidak saya alami saat saya masih kuliah di universitas negeri. Semua sangat membosankan, terlalu kaku dan kurang kekeluargaan.
Kalau bicara soal cara mengajar para Dosen pun, STIKOM Surabaya punya kelebihan sendiri dibandingkan universitas lainnya. Dosen dan mahasiswa sama-sama berperan aktif dalam kegiatan di kelas maupun di luar jam kuliah dan bisa saling memahami antara keinginan dosen dan kebutuhan mahasiswa. Hal seperti itulah yang sangat dibutuhkan untuk memperlancar perkuliahan di suatu lembaga pendidikan. Terjalin silaturahmi yang baik, komunikasi dua arah dan sharing antara dosen dan mahasiswa. Hal ini mempersempit jarak antara pengajar dan yang diajar, sehingga menciptakan kedekatan yang masih dalam batasan wajar.
Saya berharap STIKOM Surabaya dapat memenuhi ekspektasi saya. Saya tahu kalau STIKOM Surabaya adalah sekolah tinggi swasta yang cukup dikenal memiliki tidak hanya grade nilai mahasiswa yang cukup tinggi, tapi juga soft skill yang berperan penting dalam pengembangan kepribadian seseorang menjadi manusia yang sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar